Pada video mistagogi kali ini saya akan berbagi penggalan ayat Kitab Suci yang mengajarkan sebuah prinsip kebenaran yang sangat penting tapi ironisnya begitu sering diabaikan dalam seluruh sejarah manusia. Pengabaian prinsip ini telah terbukti membawa konsekuensi yang fatal bagi hidup manusia.

Saya bacakan ayatnya:

Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. (Gal.1:8-9)

Dalam suratnya, Rasul Paulus mengutuk siapapun yang mengajarkan kebenaran yang berbeda dengan apa yang sudah diterima sebelumnya, tidak peduli ia seorang rasul maupun malaikat dari surga! Rasul Paulus mengatakannya dua kali berturut-turut yang menunjukkan betapa pentingnya masalah ini.

Melalui ayat tadi Rasul Paulus mengajarkan kita mengenai prinsip integritas dalam kebenaran yang diajarkan Tuhan. Jika ada ajaran kebenaran lain yang diberikan kepada manusia dan ajaran tersebut berbeda dalam arti tidak konsisten atau tidak kompatibel dengan apa yang sudah diajarkan Tuhan sebelumnya, maka ajaran itu PASTI tidak berasal dari Tuhan. Oleh karenanya terkutuklah siapapun yang mengajarkannya! Anathema sit... demikian kata Rasul Paulus!

Pelanggaran atas prinsip integritas kebenaran ini pertama kali terjadi di Taman Eden.

Ajaran Tuhan kepada Adam dan Hawa seperti ini: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati." (Kej:3:2-3)

Tapi iblis membujuk Hawa dengan menyalahkan ajaran Tuhan sebelumnya dan menawarkan ajaran baru yang berbeda: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat." (Kej.3:4-5)

Hawa tergoda oleh tipu muslihat iblis. Akibatnya fatal: Adam dan Hawa terjatuh ke dalam dosa karena memakan buah terlarang dan harus diusir dari Taman Eden. Seperti itulah akibatnya jika manusia mulai menerima kebenaran yang berbeda dari apa yang sudah diajarkan Tuhan sebelumnya.

Kebenaran yang berasal dari Tuhan memiliki integritas atau kesatuan konsep yang utuh. Tidak adanya integritas hanya akan membuat kebenaran itu rusak dan kehilangan maknanya. Maka, semua ajaran yang berbeda dan tidak konsisten dengan kebenaran tersebut dapat merusak integritasnya. Tidak mungkin Tuhan merusak integritas kebenaran-Nya sendiri! Dengan demikian ajaran tersebut pasti bukan bagian dari kebenaran yang diajarkan Tuhan! Ajaran semacam itu seharusnya ditolak dan terkutuklah siapapun yang telah mengajarkannya!

Lalu bagaimana dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru? Bukankah keduanya memiliki ajaran yang berbeda?

Perjanjian Baru memang berbeda dari Perjanjian Lama, tapi keduanya membentuk satu kebenaran yang utuh dan konsisten. "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya." Demikianlah sabda Tuhan kita dalam Injil Matius 5:17.

Jadi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak mengajarkan dua kebenaran yang berbeda, sebaliknya keduanya merupakan satu kesatuan kebenaran yang utuh dan berasal dari satu sumber kebenaran yang sama! Sesungguhnya Perjanjian Lama adalah persiapan bagi Perjanjian Baru dan sebaliknya Perjanjian Baru adalah penggenapan bagi Perjanjian Lama. Maka tidak perlu heran jika keduanya dapat disatukan sebagai SATU ALKITAB yang berisi SATU KEBENARAN yang konsisten..!

Seandainya manusia memahami konsep integritas kebenaran ini DAN setia untuk menjaganya, maka pada hari ini seharusnya hanya ada satu Gereja yang kudus, katolik, dan apostolik!

Tapi iblis memang tidak pernah lelah berusaha menyesatkan manusia agar menjauhi kebenaran! Di sepanjang jaman iblis selalu berupaya menyesatkan manusia dengan cara yang sama seperti di Taman Eden, yaitu dengan menyalahkan atau menolak ajaran yang lama dan menawarkan berbagai ajaran yang baru!

Ini sebuah modus operandi yang khas dan selalu berulang!

Sayangnya banyak manusia yang jatuh ke dalam jerat penipuan klasik iblis ini. Akibatnya, muncul begitu banyak ajaran bidaah yang menyesatkan manusia!

Bidaah terbesar pertama yang paling signifikan dalam sejarah Gereja adalah arianisme yang muncul pada abad ke empat. Ajaran ini menolak ketuhanan Yesus yang sejak awal sudah dipercaya oleh para rasul. Dengan demikian konsep ketuhanan trinitarian yang tradisional dinyatakan salah dan digantikan konsep ketuhanan yang unitarian.

Pada dasarnya, pola penyesatan yang digunakan sama dengan di Taman Eden, yaitu ajaran lama yang tradisional dinyatakan salah lalu ajaran yang baru dan berbeda ditawarkan kepada manusia!

Pada waktu itu nyaris seluruh Gereja Katolik terjatuh ke dalam ajaran bidaah arianisme ini. Hanya seorang uskup suci, yaitu Athanasius yang nyaris seorang diri gigih menentang ajaran bidaah ini. Bahkan Paus Liberius juga sudah menjadi pendukung bidaah arianisme dan meng-ekskomunikasi Uskup Athanasius!

Menghadapi hirarki yang hampir seluruhnya mendukung arianisme, Uskup Athanasius berkata, "..mereka memiliki gedung, tapi kami memiliki iman."

Akhirnya kegigihan Uskup Athanasius untuk membela ajaran tradisional Gereja berhasil mengalahkan bidaah arianisme. Uskup Athanasius kemudian dinyatakan sebagai orang suci pembela ortodoksi dan Paus Liberius yang mengekskomunikasinya menjadi Paus pertama yang tidak dinyatakan sebagai santo!

Upaya penyesatan yang signifikan berikutnya muncul di abad 7 melalui agama Islam. Pola penyesatannya juga masih sama..., Islam menganggap Alkitab yang diterima sebelumnya sudah dipalsukan dan menawarkan Alquran sebagai Sabda Tuhan otentik yang baru.

Masih dengan pola penipuan yang sama juga, di abad ke 16 iblis berusaha menyesatkan manusia melalui seorang imam bernama Martin Luther! Dengan menggunakan kebobrokan hirarki Gereja Katolik pada masa itu sebagai alasan, Martin Luther melancarkan gerakan reformasi. Ia menolak beberapa ajaran Gereja Katolik dan menawarkan doktrin-doktrin baru sebagai ajaran penggantinya! Inilah awal munculnya bidaah protestan yang kemudian terus berpecahan hingga hari ini. Berdasarkan Gal.1:8-9, terkutuklah Martin Luther oleh Rasul Paulus!

Jika kita belajar dari sejarah Gereja dan menyadari betapa gigihnya upaya iblis untuk merusak ajaran Gereja, maka sangat besar kemungkinannya iblis tetap melakukan upaya penipuan dengan pola yang sama sampai sekarang! Iblis akan terus mencoba memperdaya kita agar menolak ajaran tradisional Gereja dan menerima ajaran-ajaran baru yang tampak menarik dan sesuai perkembangan jaman!

Tapi melalui Gal.1:8-9, Rasul Paulus sudah mengingatkan kita dengan amat keras akan hal ini. Seorang rasul atau malaikat dari surga sekalipun tidak boleh mengajarkan ajaran yang berbeda dari kebenaran yang sudah diterima sebelumnya oleh Gereja, apapun alasannya! Seluruh ajaran Gereja adalah satu kebenaran yang utuh dan konsisten serta berasal dari Tuhan, maka ajaran yang berbeda dan tidak konsisten dengan itu akan merusak integritas kebenaran ajaran Gereja dan oleh karenanya PASTI tidak berasal dari Tuhan.

Perkataan Rasul Paulus menjadi sangat relevan pada saat ini dimana umat Katolik sering dibingungkan oleh berbagai pernyataan dari hirarki yang diyakini bertentangan dengan ajaran tradisional Gereja. Ini sering menjadi dilema karena bagi banyak orang Katolik, ketaatan pada hirarki adalah bagian tak terpisah dari kekatolikan mereka.

Dalam situasi seperti ini pegangan kita sebagai pengikut Kristus sebenarnya sangat jelas dan tetap SAMA seperti sikap yang diambil oleh St. Athanasius pada abad ke empat dan semua orang kudus sepanjang sejarah Gereja: yaitu ajaran tradisional Gereja, bukan yang lain.

Dengan demikian kecintaan dan kesetiaan kita pada ajaran tradisional Gereja adalah tanda kekatolikan kita yang sesungguhnya. Sikap ini amat penting untuk menjaga integritas ajaran Gereja dan menghindarkannya dari perpecahan tanpa akhir seperti yang dialami oleh gerakan protestan.

Maka siapapun yang mengajarkan ajaran-ajaran yang berbeda dari ajaran tradisional Gereja berarti ingin merusak integritas satu-satunya jalan keselamatan... dan siapapun yang melakukannya, entah itu hirarki ataupun malaikat dari surga, sudah berada di bawah kutukan Rasul Paulus... anathema sit!

Deo gratias....
Kini seluruh video Meditasi Yesus edisi 2016 sudah bisa dilihat di youtube. Materi-materi video ini kurang lebih sama dengan materi pada video-video Meditasi Yesus sebelumnya. Yang berbeda adalah presentasinya yang jauh lebih menarik karena menggunakan 'whiteboard animation' yang sangat membantu anda dalam memahami isinya.

Seluruhnya ada 19 video, bisa diakses di channel youtube ini:

MY YOUTUBE CHANNEL

Berikut adalah contoh dari beberapa video tersebut:







Terima kasih sekiranya anda bersedia memberi apresiasi dengan 'like' atau komentar yang positif.

DEO GRATIAS...!

Puji Tuhan, buku (cetak) MEDITASI YESUS sudah terbit. Buku ini berisi semua yang perlu anda ketahui tentang Meditasi Yesus. Mulai dari latar belakang tradisi dan ajaran Gereja, sejarahnya, cara mempraktekkannya, hingga kekayaan spiritualitasnya. Buku ini adalah transkrip dari video-video dalam CD Tutorial Meditasi Yesus edisi 2016.

Setiap bab dilengkapi dengan QR-code untuk mengakses video. Ini akan sangat membantu anda dalam memahami seluruh isinya.

Tebal 176 halaman.

Harga 90.000,-

Ongkos kirim: Pulau Jawa Rp 15.000,-, Luar Jawa Rp 20.000,-
Indonesia Bagian Tengah/Timur Rp 25.000,-

Pesanan via email ke meditasi.yesus@gmail.com, atau (lebih cepat) SMS: 087722836464, dan Line/WA: 0881 208 7850

Atau... pilih PAKET LENGKAP (Buku + CD + Komboskini)




Puji Tuhan, akhirnya ebook "Meditasi Yesus" sudah terbit. Buku ini berisi transkrip lengkap dari seri video tutorial Medoitasi Yesus. Di setiap bab tersedia tautan dan QR-code untuk mengakses video.

Sudah bisa di dapatkan di SMASHWORDS

Sampel buku (40% isi) bisa di download disini:


Untuk membaca versi EPUB, anda dapat menggunakan CALIBRE. Download gratis DISINI.

Puji Tuhan, akhirnya CD Meditasi Yesus (ed. 2016) sudah di-release!



Berisi 19 buah video yang terbagi dalam dua CD:

CD 1:

Video #1 - Pendahuluan
Video #2 - Semangat Nabi Daniel
Video #3 - Berdoa Dan Keheningan Dalam Tradisi Gereja
Video #4 - Doa Batin Dalam Tradisi Gereja Timur Dan Barat
Video #5 - Doa Yesus, Doa Rosario, Dan Terbentuknya Meditasi Yesus
Video #6 - Landasan Biblis, Karunia Rohani, Dan Panggilan Dalam Meditasi Yesus
Video #7 - Bunda Maria Dalam Spiritualitas Meditasi Yesus
Video #8 - Lebih Jauh Tentang Doa Batin
Video #9 - Mempraktekkan Meditasi Yesus

CD 2:

Video #10 - Panggilan Transformatif: Jadilah Sempurna!
Video #11 - METANOIA
Video #12 - KENOSIS
Video #13 - COMMUNIO
Video #14 - IMITATIO bag.1
Video #15 - IMITATIO bag.2
Video #16 - Panggilan Apologetik
Video #17 - Panggilan Profetik bag.1
Video #18 - Panggilan Profetik bag.2
Video #19 - Penutup: Intisari Meditasi Yesus Dan Meditasi Dalam Kelompok

Bonus:
- Buku digital (ebook) Meditasi Yesus

Contoh-contoh video bisa dilihat disini:


Harga Rp 80.000,-

Ongkos kirim: Pulau Jawa Rp 15.000,-, Luar Jawa Rp 20.000,-
Indonesia Bagian Tengah/Timur Rp 25.000,-

Pesanan via email ke meditasi.yesus@gmail.com, atau (lebih cepat) SMS: 087722836464, dan Line/WA: 0881 208 7850








Dalam seri mistagogi yang kedua ini saya akan membagikan tentang tiga cara untuk mengenal Tuhan.

Seperti yang sudah saya bagikan sebelumnya, tujuan hidup manusia yang tertinggi dan universal adalah menjadi ekspresi kemuliaan Tuhan. Sebab untuk itulah Tuhan menciptaan manusia.

Lalu bagaimana kita bisa menjadi ekspresi kemuliaan Tuhan? Tentu saja yang pertama adalah kita perlu mengenal Dia. Hanya dengan mengenal Tuhan maka kita tahu bagaimana kita dapat menjadi ekspresi kemuliaan-Nya.. 

Ada tiga cara kita dapat mengenal Tuhan, ketiga cara ini masing-masing memberikan tingkat pengenalan yang berbeda-beda juga. Cara yang satu memberikan pengenalan yang lebih dalam dari yang lainnya.

Cara yang pertama adalah melalui apa yang dilakukan-Nya, yaitu melalui segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya.

Ini seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus:

Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.
(Rm.1:20)  

Cara pertama ini tersedia bagi semua orang, baik yang mengenal agama maupun yang tidak. Dengan melihat alam ciptaan, sesungguhnya manusia bisa mengetahui bahwa seluruh alam semesta dengan segala isinya tidak muncul begitu saja tapi ada yang menciptakannya, yaitu Tuhan Sang Pencipta Yang Maha Kuasa dan Kudus.

Contohnya, banyak bentuk-bentuk kearifan lokal yang muncul dari bangsa-bangsa yang belum atau tidak mengenal agama. Ini adalah bukti bahwa Tuhan dapat dikenal melalui ciptaan-Nya.

Tentu saja cara yang pertama ini tidak memadai, Tuhan menghendaki kita mengenal-Nya lebih dari sekedar Sang Pencipta yang Maha Kuasa dan Kudus. Selain itu cara ini masih sangat rentan dengan penyimpangan sehingga banyak orang yang akhirnya jatuh pada penyembahan berhala atau menyembah berbagai macam dewa dan tuhan palsu yang tidak lebih dari pada iblis sang pendusta.

Maka Tuhan Sang Pencipta menyatakan Diri-Nya lebih jauh lagi...

Selanjutnya kita bisa mengenal Tuhan melalui cara yang kedua, yaitu melalui apa yang dikatakan-Nya.

Sepanjang sejarah manusia, Tuhan menyatakan Diri-Nya kepad manusia melalui Sabda-Nya yang disampaikan oleh para nabi dalam kitab-kitab suci. Demi menjaga konsistensi, Ia telah memilih satu bangsa untuk tugas itu.

Dan puncak pernyataan Diri-Nya melalui Sabda ini adalah ketika Sang Putra Allah sendiri berinkarnasi menjadi manusia, inilah saat dimana  Sabda menjadi Daging dan tinggal diantara kita. Hanya melalui Sang Sabda ini, kita dapat mengenal Tuhan dengan benar.

Sabda Tuhan melalui Kitab Suci berakhir dengan para rasul. Selanjutnya Tuhan menyatakan Sabda-Nya melalui ajaran Gereja yang dikenal juga sebagai Tradisi Suci. Dengan mempelajari Sabda Tuhan di dalam Kitab Suci dan ajaran-ajaran Gereja kita dapat mengenal Tuhan melalui apa yang dikatakan-Nya.

Cara yang kedua ini jelas membawa kita pada pengenalan akan Tuhan yang lebih dalam dan kaya dibandingkan dengan hanya mengenal Dia melalui apa yang telah diciptakan-Nya.

Sekalipun demikian, inipun belum cukup. Apalagi dalam kenyataannyapun teks-teks Kitab Suci karena keterbatasannya sering disalahartikan dan memunculkan berbagai ajaran bidaah yang menyesatkan.

Tuhan menghendaki kita mengenal-Nya lebih baik lagi dan tidak menghendaki kita terjebak dalam keterbatasan teks-teks Kitab Suci.

Maka Tuhan juga menghendaki kita mengenal-Nya melalui cara yang ketiga, yaitu melalui apa yang dirasakan-Nya. Inilah cara yang terdalam dari semuanya, puncak pengenalan akan Tuhan yang membawa kita dapat mengenal Dia sebaik dan sedalam yang diinginkan Tuhan bagi manusia untuk mengenal Dia!

Kita dapat mengenal Tuhan melalui apa yang dilakukan-Nya dengan melihat alam ciptaan, kita dapat mengenal Tuhan melalui apa yang dikatakan-Nya dengan mempelajari Kitab Suci dan ajaran-ajaran Gereja... Lalu bagaimana cara kita mengenal Tuhan melalui apa yang dirasakan-NYa?

Dimanakah Tuhan mengungkapkan perasaan-Nya kepada kita? Apakah ini gagasan gnostik yang rahasia?

Bukan!

Sebaliknya, ini adalah gagasan yang terkandung dalam kekayaan tradisi ajaran Gereja Katolik dan sudah dipraktekkan selama berabad-abad!

Tidak ada ungkapan perasaan kasih Tuhan yang lebih dalam dari pada saat Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi penebusan dosa-dosa kita. Itulah momen terpenting dalam inkarnasi-Nya yang disediakan bagi kita untuk memahami perasaan-Nya.

Dan kita dapat memahami perasaan Tuhan melalui doa kontemplatif dengan merenungkan Salib Tuhan. Semua momen hidup Tuhan yang tercatat dalam Injil sebenarnya bisa digunakan untuk memahami perasaan Tuhan, tapi bagaimanapun momen salib tetap yang terpenting.

Gereja kita telah menyediakan banyak sarana untuk itu, misalnya saja doa Jalan Salib dimana kita mengenangkan momen-momen penting saat Tuhan kita disalibkan. Atau juga dalam doa Rosario ketika kita mengenangkan narasi-narasi Injil seputar kehidupan Tuhan kita!

Itu adalah sebagian cara yang sudah dikenal dan teruji selama berabad-abad yang dapat kita gunakan untuk memahami Tuhan melalui apa yang dirasakan-Nya.

Dan sekarang, kita juga dapat melakukannya melalui Meditasi Yesus. Setelah doa yang kedua, "Tuhan Yesus Kristus, aku mengasihi Engkau..." terdapat momen hening untuk kontemplasi. Saat itu dapat kita gunakan untuk memahami perasaan Tuhan dengan memandang Dia dalam imajinasi kita.

Momen apapun yang tertulis di Injil sebenarnya dapat digunakan untuk kontemplasi ini, tapi momen yang terbaik, setidaknya bagi saya, adalah dengan memandang Tuhan yang tersalib. Itulah saat dimana Tuhan seolah mengatakan pada kita, "Sahabat-Ku, seperti inilah Aku telah mengasihi engkau..."

Dengan cara ini Roh Kudus akan membimbing kita untuk mengenal Tuhan melampaui apa yang terungkap dalam teks-teks Kitab Suci. Atau dengan kata lain kita diajak untuk masuk ke dalam inti dari Sabda Tuhan.

Tuhan sendiri berkata dalam Injil Yohanes tentang Roh Kudus yang akan membantu kita memahami Sabda Tuhan,

"..tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu..." (Yoh.14:26)

Dengan memahami perasan Tuhan, maka Roh Kudus sendiri yang akan membimbing dan mengajar kita memahami seluruh Sabda-Nya dan akan mengantar kita untuk mengenal-Nya dengan lebih dalam....

Sekali lagi saya ulangi, ada tiga cara untuk mengenal Tuhan. Yang pertama melalui apa yang dilakukan-Nya, yang kedua melalui apa yang dikatakan-Nya, dan yang ketiga melalui apa yang dirasakan-Nya.

Tidak ada cara lain yang lebih baik untuk mengenal Tuhan selain dengan memahami perasaan-Nya. 

Kita bisa memahami perasaan Tuhan melalui doa-doa kontemplatif yang telah tersedia dalam kekayaan tradisi Gereja kita. Salah satunya yang termudah dan setiap hari saya lakukan adalah melalui Meditasi Yesus.



Ini adalah video yang pertama dalam seri MISTAGOGI Meditasi Yesus.

Seri MISTAGOGI Meditasi Yesus ini dimaksudkan untuk membagikan pemahaman tentang misteri iman kristiani melalui sudut pandang spiritualitas Meditasi Yesus.

Pada video yang pertama ini kami akan berbagi mengenai salah satu masalah yang paling mendasar yang sering menjadi pertanyaan setiap orang dalam semua tradisi, yaitu tujuan hidup.

Sama seperti seorang atlet yang bersuka cita ketika berhasil meraih kemenangan, kita bahagia manakala kita berhasil mencapai tujuan kita...

Problemnya....banyak orang yang tidak mengetahui apa tujuan hidupnya. Mereka juga tidak tahu apa yang sesungguhnya diinginkan oleh jiwanya. Tidak perlu heran jika banyak orang yang tidak juga merasa bahagia di tengah segala kesenangan dan kenikmatan duniawi yang ada di sekelilingnya.

Kehidupan duniawi dengan segala kompleksitasnya sering membuat orang terjebak pada tujuan hidup yang salah. Apalagi ketika kehidupan duniawi itu meminggirkan atau bahkan menyingkirkan sama sekali kehidupan spiritual.

Seperti orang yang tersesat di dalam hutan tanpa dibekali kompas ataupun peta, kita terjebak pada tujuan-tujuan sesaat yang tampak di depan mata. Dalam kondisi seperti ini setiap pilihan yang kita ambil hanya membuat kita semakin tersesat dan menjauh dari tujuan hidup kita yang sesungguhnya.

Semangat duniawi yang begitu dominan di jaman ini membuat kita menempatkan uang, kekuasaan, kenikmatan duniawi, atau bahkan informasi/pengetahuan sebagai tujuan hidup yang harus diraih. Banyak orang mengira hal-hal duniawi semacam itu yang dibutuhkan oleh jiwanya.

Sayangnya itu hanyalah tujuan-tujuan yang semu dan dangkal, jiwa kita tidak pernah terpuaskan dengan pencapaian duniawi semacam itu. Semuanya hanya memberikan kebahagiaan semu yang bersifat sementara dan setelah itu jiwa kita akan kembali mengalami kekosongan. Banyak yang kemudian berupaya mengatasi kekosongan ini dengan sia-sia melalui keserakahan dengan selalu menginginkan lebih, atau berbagai hiburan tidak sehat, dan obat-obatan terlarang yang tidak hanya merusak diri sendiri tapi juga orang lain.

Dengan kata lain, banyak orang yang hidup tanpa arah dan tujuan yang benar, dan itu membuat mereka kehilangan kemanusiaannya. Itulah yang tengah terjadi pada manusia-manusia modern.

Lalu apa sebenarnya tujuan hidup kita?

Ada yang mengatakan bahwa tujuan hidup bukanlah sesuatu yang perlu kita temukan atau kita cari, tapi sesuatu yang harus kita definisikan sendiri. Dengan demikian setiap orang memiliki tujuan hidup yang khas.

Sayangnya itu hanya benar bagi orang atheis atau skeptik. Bagi mereka tidak ada yang berhak menentukan tujuan hidup selain diri mereka sendiri. Para atheis dan skeptik memang tidak mungkin memiliki tujuan hidup yang obyektif, tujuan hidup mereka sepenuhnya subyektif dan bisa berubah-ubah sesuai dengan perkembangan kondisi dan kesadaran.

Seperti kompas yang berubah-ubah adalah kompas yang tidak bisa dipercaya, demikian juga tujuan hidup yang berubah-ubah: sangat rapuh dan tidak bisa dipercaya.

Akhirnya mereka akan jatuh pada nasib yang sama: sekalipun mereka mampu mencapai tujuan hidup subyektif dan relatif yang sudah mereka tetapkan, jiwa mereka tetap belum terpuaskan... selalu tersisa kekosongan....

Tujuan hidup yang bersifat subyektif dan relatif ini tentu saja tidak benar bagi mereka yang percaya pada Tuhan Sang Pencipta.

Lihatlah di sekeliling kita, tidak akan kita temukan satupun barang ciptaan manusia yang tidak memiliki fungsi atau tujuan. Semua barang-barang itu dibuat dengan tujuan tertentu.

Jika manusia tidak menciptakan sesuatu tanpa tujuan, mungkinkah Tuhan menciptakan segala sesuatu tanpa tujuan? Tidak masuk akal...

Semua yang diciptakan Tuhan pasti memiliki tujuan. Oleh karenanya manusia sebagai ciptaan-Nya yang terbaik pasti juga diciptakan dengan tujuan tertentu. Dan tujuan yang dirancang Tuhan bagi ciptaan terbaik-Nya pastilah tujuan yang terbaik yang mungkin ada serta berlaku untuk semua orang.

Dari situlah manusia mendapatkan tujuan hidupnya yang obyektif, absolut dan universal. Tujuan hidup yang ditetapkan oleh Tuhan Sang Pencipta ini akan memberikan kebahagiaan sejati manakala kita bisa mencapainya. Tidak akan ada kebahagiaan yang lebih dari itu, dan saat mendapatkannya jiwa kita akan terpuaskan seperti ikan yang menemukan air.

Lalu apakah tujuan hidup manusia yang obyektif, absolut dan universal ini?

Ada yang mengatakan, tujuan hidup kita tidak lain adalah untuk menyembah Tuhan. Memang benar kita harus menyembah Tuhan, tapi bukan untuk itu kita diciptakan. Mengatakan kita diciptakan untuk menyembah Tuhan sama saja dengan mengatakan Tuhan membutuhkan kita untuk menyembah Dia. Apakah Tuhan tidak sempurna sehingga Dia membutuhkan sesuatu dari ciptaan-Nya sendiri?

Sama juga dengan orang yang mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk mengasihi Tuhan.... Kita memang harus mengasihi Tuhan, tapi bukan untuk itu kita diciptakan. Apakah Tuhan kekurangan kasih sehingga Dia membutuhkan kasih dari ciptaan-Nya sendiri?

Apakah Tuhan itu kesepian sehingga Dia membutuhkan ciptaan untuk memperhatikan Dia?

Tuhan kita adalah Tuhan yang sempurna sejak sebelum Dia menciptakan segala sesuatu. Ini sangat penting untuk dipahami. Tuhan kita adalah Allah Tritunggal yang dalam ketiga pribadi-Nya dipenuhi kasih yang sempurna: Bapa mengasihi Putra dan Roh Kudus, Putra mengasihi Bapa dan Roh Kudus, dan Roh Kudus mengasihi Bapa dan Putra. Dengan kata lain, Allah Tritunggal hidup dalam kasih dan kekudusan yang sempurna sejak kekekalan, sejak sebelum segala sesuatu ada. Dia sama sekali tidak membutuhkan apapun lagi dari luar Diri-Nya.

Ini berbeda dengan Allah unitarian yang sebelum adanya penciptaan berada dalam keadaan kesepiaan yang tak terbayangkan. Dalam pandangan unitarian, mungkin saja Allah unitarian yang maha kesepian ini membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kesepiannya, oleh karenanya cukup masuk akal jika Allah unitarian menciptakan manusia untuk menyembah dia.

Masalahnya..., karena Allah unitarian membutuhkan sesuatu dari luar dirinya, maka dia memiliki kekurangan dan tidak sempurna. Dan karena Allah unitarian tidak sempurna, maka dia bukan Tuhan yang sesungguhnya. Atau dengan kata lain, konsep Allah unitarian bukanlah konsep ketuhanan yang benar.

Sesederhana itu...

Jika Allah kita, yaitu Allah Tritunggal, adalah Allah yang sempurna dan tidak membutuhkan ciptaan, lalu untuk apa Dia menciptakan segala sesuatu?

Bayangkanlah seorang pelukis yang hidup berkecukupan. Ketika dia melukis, dia tidak melukis karena dia membutuhkan uang dari hasil penjualan lukisannya. Dia bebas dari tuntutan apapun yang mengharuskannya untuk melukis. Satu-satunya yang diinginkannya saat melukis adalah mengekspresikan seluruh rasa seninya dalam karya lukisannya secara bebas.

Itu dia...

Tuhan menciptakan segala sesuatu, bukan karena Dia membutuhkan ciptaan tapi karena Tuhan ingin mengekspresikan seluruh kemuliaan-Nya dalam ciptaan. Dan itu semua dilakukan-Nya dalam kebebasan yang penuh.

Bagi Tuhan keadaan tanpa ciptaan maupun ada ciptaan adalah sama baiknya, sebab Dia sudah cukup dengan diri-Nya sendiri. Tuhan tidak kekurangan apapun tanpa ciptaan dan Tuhan juga tidak mendapat nilai tambah apapun dengan adanya ciptaan. Tapi Dia telah memilih untuk mengadakan ciptaan karena Dia INGIN.., bukan BUTUH.., sekali lagi.. Dia INGIN mengekspresikan kemuliaan-Nya dalam ciptaan. Bersyukurlah kita karena Tuhan memilih untuk mengadakan ciptaan.

Sebagai Maha Pencipta, Tuhan tidak akan berhenti mencipta sampai Ia menghasilkan ciptaan yang sempurna. Itu sebabnya dalam Kitab Kejadian Tuhan tidak berhenti mencipta sebelum hari keenam. Itulah saat dimana Tuhan menciptakan manusia sebagai karya terbaik-Nya, yaitu sebagai citra-Allah. Dalam diri manusia inilah seluruh kemuliaan Tuhan menemukan ekspresi terbaiknya. Pada hari ketujuh, Tuhan berhenti mencipta dan Dia beristirahat untuk menikmati seluruh ciptaan yang telah menjadi ekspresi kemuliaan-Nya.

Sekarang kita tahu apa tujuan hidup kita yang sesungguhnya, yaitu kita hidup untuk menjadi ekspresi kemuliaan Tuhan. Dan hanya dengan menjadi ekspresi kemuliaan Tuhan itu juga kita memperoleh kebahagiaan yang sejati dimana seluruh keinginan dan kerinduan terdalam jiwa kita terpenuhi. Itu adalah tujuan hidup obyektif yang tertinggi dan universal yang mungkin ada. Silahkan cari dalam agama atau filsafat manapun, tidak akan anda temukan tujuan hidup manusia yang lebih baik dari ini....

Itu sebabnya kita diperintahkan untuk mengasihi Tuhan dan sesama karena dengan mengasihi Tuhan dan sesama maka hidup kita menyatakan kemuliaan Tuhan.
Itu sebabnya Tuhan memanggil kita untuk menjadi kudus dan sempurna seperti Bapa di surga karena dengan menjadi kudus dan sempurna kita menjadi ekspresi kemuliaan-Nya yang sempurna juga. Itu sebabnya Tuhan menghendaki kita menguduskan hari sabat karena dengan menguduskan hari Sabat kita diingatkan kembali pada tujuan hidup kita sebagai ekspresi kemuliaan dan kekudusan Tuhan.

Dengan menyadari tujuan hidup kita sebagai ekspresi kemuliaan Tuhan, seluruh perintah dan hukum-hukum dalam Kitab Suci menjadi jelas dan masuk akal. Semuanya itu diberikan kepada kita bukan sebagai beban, melainkan agar hidup kita dapat kembali menjadi ekspresi kemuliaan Tuhan seperti pada mulanya manusia diciptakan dan kitapun dapat memperoleh kebahagiaan yang sempurna dalam hidup yang seperti itu.

Jika kita hidup menuruti hukum-hukum dan perintah-perintah Tuhan, jika kita mengasihi Dia dan mengasihi sesama kita, jika kita menjauhi dosa dan hidup dalam kekudusan, maka suatu saat jiwa kita memperoleh kepenuhan dan kita akan mencapai kebahagiaan sejati sehingga kita bisa berkata dengan segala kerendahan hati seperti Bunda Maria, "Jiwaku memuliakan Tuhan..."